JEPARA 20 Januari 2026 – BATAVIAINEWS.COM – Wakil Ketua DPRD Kabupaten Jepara, Drs. H. Junarso, mengikuti Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Bencana Hidrometeorologi yang digelar di Desa Tempur, Kecamatan Keling, bersama Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI. Rakor ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat penanganan dampak banjir bandang dan longsor besar yang melanda wilayah tersebut sejak Jumat malam hingga Senin dini hari (12 Januari 2026).
Kehadiran Junarso dalam forum koordinasi lintas sektor ini menegaskan komitmen DPRD Jepara dalam mengawal penanganan bencana secara cepat, terpadu, dan berorientasi pada keselamatan serta pemulihan kehidupan masyarakat terdampak.
Dalam forum tersebut, dibahas langkah-langkah prioritas penanganan darurat, mulai dari pembukaan akses jalan yang terputus, percepatan evakuasi, pendistribusian logistik, pemulihan layanan kesehatan, hingga mitigasi risiko longsor susulan mengingat kondisi tanah di kawasan Pegunungan Muria masih labil akibat curah hujan ekstrem.
“Keselamatan warga adalah prioritas utama. Pemerintah daerah bersama BNPB, BPBD, TNI-Polri, relawan, dan seluruh pemangku kepentingan harus bergerak cepat, terkoordinasi, dan tepat sasaran. DPRD Jepara akan mengawal penuh upaya penanganan darurat hingga pemulihan pascabencana,” tegas Junarso di sela rakor.
Sebagaimana diketahui, bencana hidrometeorologi yang melanda Kecamatan Keling menyebabkan Desa Tempur terisolasi total akibat banjir bandang dan longsor masif di banyak titik. Luapan sungai merusak sejumlah jembatan penghubung antar desa, sementara material longsor berupa tanah, lumpur, dan batu berukuran besar menutup akses vital, di antaranya jalur Damarwulan–Tempur, Tempur–Duplak, dan Tempur–Medani, sehingga tidak dapat dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat.
Camat Keling, Lulut Andi Andriyanto, sebelumnya menyampaikan bahwa longsor terjadi di banyak titik dengan material batu besar menutup badan jalan, sehingga aparat dan relawan terpaksa menempuh jalur darurat dengan berjalan kaki untuk menjangkau warga.
Selain memutus akses, bencana ini juga mengakibatkan satu rumah roboh tertimpa pohon, beberapa rumah rusak, serta jaringan listrik di Desa Tempur padam total sejak Jumat sore. Kondisi tersebut memperparah situasi warga yang kini menghadapi keterbatasan penerangan, komunikasi, dan distribusi kebutuhan pokok.
Evakuasi dan penanganan darurat hingga kini masih terkendala cuaca ekstrem dan ancaman longsor susulan. Penyingkiran material longsor sementara dilakukan secara manual karena alat berat belum dapat menjangkau lokasi akibat akses jalan yang terputus.
Dalam rakor tersebut, Kepala BNPB menegaskan komitmen pemerintah pusat untuk mendukung penuh percepatan penanganan bencana di Jepara, termasuk pengiriman logistik, personel, dan alat berat. Sementara Wakil Ketua Komisi VIII DPR RI menyampaikan dukungan politik anggaran agar penanganan darurat hingga rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana dapat berjalan optimal.
Wakil Ketua DPRD Jepara Junarso menambahkan bahwa DPRD akan terus mendorong pemerintah daerah agar segera membuka jalur darurat, memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi, serta menjamin layanan kesehatan dan perlindungan bagi kelompok rentan, terutama anak-anak, lansia, dan perempuan.
“Bencana ini menjadi pengingat serius akan tingginya kerentanan wilayah pegunungan Jepara terhadap banjir bandang dan longsor. Karena itu, selain penanganan darurat, kita juga harus memperkuat mitigasi dan tata kelola lingkungan ke depan agar risiko serupa dapat diminimalkan,” pungkasnya.
Hingga berita ini diturunkan, pendataan korban dan kerusakan masih terus dilakukan, sementara seluruh pihak diminta tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem dan longsor susulan di wilayah terdampak.
Petrus
Buatkan judul singkat berita faktual dan isi berita sekengkap lengkapnya cerdas dan wibawa berkaitan dengan kegiatan Wakil ketua DPRD Jepara Drs. H. Junarso mengikuti Rapat koordinasi penanganan bencana hidrometeorologi kabupaten Jepara bersama Kepala BNPB wakil ketua komisi VIII DPR RI di desa Tempur Jepara
Banjir Bandang dan Longsor Terjang Keling, Desa Tempur Jepara Terisolasi Total
Bencana hidrometeorologi besar melanda wilayah Kecamatan Keling, Kabupaten Jepara, Jumat malam hingga Sabtu dini hari (10 Januari 2026). Hujan deras dengan intensitas tinggi yang turun terus-menerus memicu banjir bandang disertai longsor masif, mengakibatkan Desa Tempur terisolasi total, akses jalan terputus, serta aktivitas warga lumpuh nyaris sepenuhnya.
Berdasarkan laporan warga dan aparat setempat hingga pukul 23.30 WIB, luapan air sungai terjadi di sejumlah titik dan melampaui beberapa jembatan penghubung antar desa. Kondisi ini menyebabkan jalur vital Damarwulan–Tempur, Tempur–Duplak, serta akses alternatif Tempur–Medani tidak dapat dilalui sama sekali.
Akses Lumpuh, Desa Tertinggi di Jepara Terisolasi
Desa Tempur yang dikenal sebagai desa tertinggi di Kabupaten Jepara kini terisolasi akibat tanah longsor dalam skala besar. Material longsor berupa tanah, lumpur, dan batu-batu berukuran besar menutup badan jalan di banyak titik, membuat kendaraan roda dua maupun roda empat tak bisa melintas.
Camat Keling, Lulut Andi Andriyanto, membenarkan kondisi tersebut.
“Longsorannya banyak sekali titiknya. Batu-batu besar ada di jalan. Akses tertutup total. Pagi ini kami mencoba masuk dengan berjalan kaki,” ujarnya, Sabtu (10/1/2026).
Longsor terjadi setelah hujan lebat mengguyur wilayah Keling sejak Jumat (9/1/2026) siang hingga malam hari tanpa jeda.
Rumah Roboh, Listrik Padam, Warga Terancam
Selain memutus akses jalan, bencana ini juga merusak permukiman warga. Dilaporkan satu rumah roboh akibat tertimpa pohon tumbang, sementara beberapa rumah lainnya mengalami kerusakan dengan sebab serupa.
Tak hanya itu, jaringan listrik di Desa Tempur terputus total sejak Jumat sore, memperparah kondisi warga yang kini harus bertahan tanpa penerangan, komunikasi terbatas, serta pasokan logistik yang terhambat.
“Saya baru bisa terhubung dengan Carik Desa Tempur sekitar pukul dua dini hari. Saat ini proses evakuasi masih dilakukan secara manual. Ada tenaga kesehatan yang mencoba masuk agar pelayanan kesehatan tetap bisa diberikan,” tambah Lulut.
Evakuasi Terkendala Cuaca dan Ancaman Longsor Susulan
Hingga berita ini diturunkan, evakuasi belum berjalan maksimal. Petugas gabungan, relawan, dan unsur pemerintah masih berupaya menembus jalur yang tertutup longsoran, sambil menunggu alat berat dapat diturunkan ke lokasi.
Sementara itu, penyingkiran material longsor masih dilakukan secara manual, karena akses alat berat belum memungkinkan. Kondisi ini diperparah oleh cuaca ekstrem, hujan deras yang masih turun disertai angin kencang dan guntur, sehingga meningkatkan risiko longsor susulan.
Para petugas dan relawan diminta ekstra waspada, mengingat struktur tanah di wilayah pegunungan Desa Tempur masih labil akibat curah hujan tinggi.
“Pemerintah Diminta Bergerak Cepat”
Bencana ini kembali menjadi peringatan keras akan tingginya kerentanan wilayah pegunungan Jepara terhadap banjir bandang dan longsor, khususnya saat musim hujan ekstrem.
Masyarakat berharap pemerintah daerah, BPBD, dan instansi terkait segera:
membuka akses jalan darurat,
menurunkan alat berat,
memastikan distribusi logistik,
serta menjamin layanan kesehatan dan keselamatan warga.
Hingga kini, jumlah korban jiwa masih dalam pendataan, sementara kondisi warga Desa Tempur berada dalam situasi darurat dan membutuhkan perhatian serius dari seluruh pihak.
Petrus














