BATAVIAINEWS.COM Kendari – Ahad (11/01) lalu menjadi momentum berharga dan penuh syukur bagi jajaran pimpinan Kulliyatul-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI)/Madrasah Aliyah (MA) DPL. Pada hari tersebut, Kepala KMI/MA DPL mendapatkan kesempatan untuk bergabung dalam acara pembukaan Pelatihan Implementasi Buku Tsaqafah Islamiyah, sebuah program strategis yang mengintegrasikan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC)dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam (Deep Learning/DP).(12 Januari 2026)
Kegiatan yang digelar ini semakin bernilai dengan kehadiran serta arahan langsung dari tokoh pendidikan nasional, Prof. dr. Fasli Jalal, Sp.GK., Ph.D. Beliau, yang dikenal sebagai mantan Wakil Menteri Pendidikan Nasional era Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, saat ini aktif menjabat sebagai Rektor Universitas YARSI sekaligus Ketua DPP Gerakan Usaha Pembaruan Pendidikan Islam (GUPPI).
Dalam arahan intinya, Prof. Fasli Jalal menegaskan peran sentral guru dalam mengimplementasikan Buku Tsaqafah Islamiyah secara sungguh-sungguh dan kontekstual. Menurutnya, buku ini jauh melampaui fungsi sebagai bahan ajar biasa.
“Ini adalah buku kajian keislaman yang memuat pemahaman mendalam tentang konsep, pemikiran, dan pandangan hidup Islam yang bersumber langsung dari Al-Qur’an dan Sunnah,” tegasnya.
Beliau menjelaskan bahwa Tsaqafah Islamiyah mencakup seluruh aspek kehidupan, sehingga diharapkan dapat menjadi landasan berpikir, bersikap, dan bertindak yang kokoh bagi para peserta didik.
Lebih lanjut, Prof. Fasli menjelaskan bahwa tujuan utama penguatan Tsaqafah Islamiyah adalah untuk membentuk pribadi muslim yang utuh dan integral.
“Pendidikan kita harus melahirkan insan yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara spiritual dan berakhlakul karimah. Inilah hakikat pendidikan Islam sejati: menghadirkan ilmu yang mampu menumbuhkan kesadaran, cinta, dan tanggung jawab terhadap diri, agama, dan sesama,” paparnya.
Yang menarik, beliau juga memaparkan keselarasan yang erat antara tiga pilar dalam pelatihan ini.
“Tsaqafah Islamiyah sangat sejalan dengan semangat Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) dan metodologi Pembelajaran Mendalam (DP),” ujarnya.
KBC, dengan fokus pada nilai kasih sayang dan empati, serta DP yang mendorong pemahaman esensial daripada sekadar hafalan, menemukan pondasi dan arahnya dalam pandangan hidup Islami.
“Ketiganya bertemu dalam satu visi: mewujudkan pendidikan yang memanusiakan manusia dan mendekatkan mereka kepada nilai-nilai ilahiyah,” imbuhnya.
Arahan Prof. Fasli Jalal ini menjadi pengingat dan penyemangat yang kuat bagi para peserta pelatihan, yang sebagian besar adalah para pendidik. Acara ini menegaskan kembali bahwa tugas mulia seorang guru bukan sekadar mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi lebih dari itu, adalah menanamkan cara pandang hidup Islami yang kokoh, relevan dengan tantangan zaman, dan mampu melahirkan generasi rabbani: generasi yang beriman, berilmu, serta berdaya guna bagi kemaslahatan umat dan bangsa.
Pelatihan ini diharapkan dapat menghasilkan guru-guru yang tidak hanya terampil secara metodologis, tetapi juga memiliki kedalaman pemahaman dan komitmen untuk membentuk karakter peserta didik berdasarkan fondasi Tsaqafah Islamiyah yang kuat. (Syuf)














