Scroll untuk baca artikel
Example 35x290
Example 728x250
BeritaNewsSumatera Barat

Krisis Air Bersih di Padang: Fraksi Gerindra DPRD Kecam Pemko dan Warga Terpaksa Antre Air

53
×

Krisis Air Bersih di Padang: Fraksi Gerindra DPRD Kecam Pemko dan Warga Terpaksa Antre Air

Sebarkan artikel ini

BATAVIAINEWS.COM Padang, 28 Januari 2026 – Fraksi Partai Gerindra DPRD Kota Padang mengecam keras Pemerintah Kota Padang atas belum tertanganinya krisis air bersih yang terus membebani warga.

Ketua Fraksi Gerindra, Wahyu Hidayat, menilai persoalan ini merupakan akibat langsung dari buruknya pengelolaan pemerintahan dan lemahnya respons jajaran eksekutif di bawah kepemimpinan Wali Kota Padang.

Menurutnya, krisis air bersih yang berkepanjangan tidak bisa lagi dialihkan sebagai dampak cuaca atau bencana semata.
“Kalau Pemko bekerja serius dan terencana, peluang penyelesaian krisis sebenarnya terbuka lebar. Tapi faktanya, pemerintah daerah gagal memaksimalkan dukungan dari pemerintah pusat,” tegas Wahyu.
Wahyu menyoroti rencana pembangunan sumur bor oleh Kementerian Pekerjaan Umum melalui Balai Penataan Bangunan Prasarana dan Kawasan (PBPK) Sumbar.

Pemerintah pusat siap membangun hingga 300 sumur bor, namun Pemko Padang hanya mengajukan lima titik. “Ini sangat memprihatinkan dan menunjukkan lemahnya kapasitas manajerial,” katanya.

Lebih jauh, Wahyu menilai akar masalah bukan pada anggaran, melainkan buruknya koordinasi, lambatnya respons, dan minimnya kepemimpinan tegas. Ia juga mengkritik fokus Wali Kota yang dianggap lebih condong pada pencitraan politik dibanding menyelesaikan kebutuhan dasar warga.

Fraksi Gerindra menyatakan tengah mengkaji langkah pengawasan lanjutan, termasuk kemungkinan penggunaan hak interpelasi terhadap Wali Kota Padang.

Sementara itu, warga Kelurahan Pasa Ambacang, Kecamatan Kuranji, kembali harus mengantre air bersih dari truk tangki Dinas PU Kota Padang. Sumur-sumur warga sudah kering total, memaksa mereka menjemput air dari sungai atau sumber lain. Rosi, salah seorang warga, mengatakan, “Air sumur sudah tidak ada lagi. Prioritas utama adalah anak-anak mandi sebelum sekolah, sementara orang dewasa harus mengalah.”

Krisis air bersih ini telah berlangsung sejak akhir tahun lalu dan belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Bantuan air dari pemerintah daerah pun tidak menentu, karena akses permukiman yang sulit dijangkau truk tangki.
(Ferdiansyah/Wakaperwil Sumbar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *