BATAVIAINEWS.COM SELATPANJANG – Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti terus mendorong pelestarian sejarah dan kebudayaan Melayu sebagai bagian dari upaya menjaga identitas serta jati diri daerah.
Salah satunya melalui kegiatan Menapak Jejak Warisan Sejarah di Kompleks Pemakaman Tengku Bagus Sayid Thoha, Jalan Tengku Umar, Selatpanjang, Minggu (8/11/2026).
Kegiatan ini bukan sekadar ziarah dan doa bersama. Kompleks pemakaman tersebut menjadi salah satu bukti perjalanan sejarah Negeri Tebing Tinggi yang memiliki kaitan erat dengan Kesultanan Siak Sri Indrapura, termasuk sejarah pemerintahan Temenggung yang berlangsung sekitar 140 tahun, sejak 1805 hingga 1945.
Bupati Kepulauan Meranti, AKBP (Purn) H. Asmar, diwakili Sekretaris Daerah (Sekda) H. Sudandri Jauzah, S.H. Kegiatan yang diinisiasi LAMR Kepulauan Meranti itu turut dihadiri tokoh adat, perwakilan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah Riau, keluarga ahli waris Kerajaan Bandar Kencana Siak Sri Indrapura dan Negeri Tebing Tinggi, unsur Forkopimda, serta sejumlah undangan.

Ketua Umum Dewan Pimpinan Harian LAMR Kepulauan Meranti, Datuk Seri Afrizal Cik, S.Sos.M.Si., mengatakan penelusuran sejarah tersebut penting agar masyarakat tidak kehilangan hubungan dengan akar peradaban daerahnya sendiri.
“Jangan sampai generasi kita tidak tahu siapa pendiri negerinya. Sejarah ini adalah jati diri kita,” ujar Afrizal Cik.
Siapa Tengku Bagus Sayid Thoha?
Berdasarkan catatan sejarah Negeri Makmur Kencana Bandar Tebing Tinggi, Tengku Bagus Sayid Thoha adalah putra Panglima Besar Tengku Busu Syarif Ahmad Syahabuddin.
Atas titah Sultan Siak ke-VII, Sultan Syarif Ali Abdul Jalil Syaifuddin, pada 1805 M, Tengku Bagus Sayid Thoha dititahkan mendirikan negeri/bandar di Pulau Tebing Tinggi. Ia kemudian memerintah Negeri Makmur Bandar Tebing Tinggi pada 1810-1858 M.
Di masa pemerintahannya, ia membina keamanan, ekonomi, dan budaya seperti zapin, berpantun, joget, silat, bersyair, hingga sepak raga. Negeri Tebing Tinggi pun menjadi ramai, berkembang, dan menjadi pangkalan perang melawan Belanda sebagai basis terdepan Kesultanan Siak.
Ia mangkat pada 1858 dalam usia 72 tahun dan diberi gelar Marhum Bandar Tebing Tinggi.

Di kompleks pemakaman Jalan Tengku Umar ini pula bersemayam sejumlah tokoh besar lainnya, di antaranya Tengku Busu Syed Ali, Tengku Besar Syarifah Kamlah yang bergelar Srikandi Bintang Subuh, dan Tengku Sulung Cantik Syed Alwi atau Marhum Buntat, Temenggung dan Penguasa Negeri Tebing Tinggi pada masanya.
Kompleks ini juga menyimpan kisah para pemimpin terdahulu yang pernah memiliki kedudukan penting, mulai dari Temenggung, Panglima, Datuk Bandar, hingga Penghulu Balang.
Pemasangan Kain Kuning
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, setelah ziarah dan doa bersama, dilaksanakan pula prosesi pemasangan kain kuning kepada sejumlah pihak yang telah dimusyawarahkan bersama keluarga dan juru ziarah.
Prosesi ini menjadi simbol penghormatan adat Melayu kepada tokoh-tokoh yang berjasa dan kepada ahli waris yang menjaga warisan sejarah tersebut.
Pemkab Meranti menegaskan komitmennya untuk terus menjaga kompleks pemakaman ini sebagai salah satu cagar budaya, dengan pemeliharaan dan pengamanan oleh Juru Pelihara Makam.
Melalui kegiatan Menapak Jejak Warisan Sejarah ini, diharapkan generasi muda Meranti semakin mengenal, menghargai, dan mencintai sejarah negerinya sendiri, sekaligus memperkuat identitas Melayu sebagai jati diri daerah.(Jefrizal/Meranti)














