BATAVIAINEWS.COM JAKARTA – Layanan rehabilitasi narkotika tidak cukup hanya tersedia. Yang terpenting adalah layanan tersebut benar-benar memberi manfaat nyata bagi klien. Prinsip inilah yang menjadi dasar pengembangan Indeks Kapabilitas Rehabilitasi (IKR) 2026 oleh BNN melalui Deputi Bidang Rehabilitasi.
Berbeda dengan pengukuran sebelumnya, IKR 2026 menggunakan pendekatan capability-based assessment. Artinya, penilaian tidak lagi hanya melihat “apakah ada” SOP, struktur organisasi, atau dokumen pendukung. Fokusnya bergeser ke “sejauh mana” komponen tersebut diterapkan secara konsisten, efektif, bermutu, dan mampu mendukung proses pemulihan secara berkelanjutan.


Dalam pendekatan ini, keberadaan SOP, SDM, dan dokumen diposisikan sebagai fondasi. Tujuan utamanya adalah menilai penerapan di lapangan melalui pemantauan, evaluasi, dan perbaikan berbasis bukti.
Tingkat kematangan layanan diukur dalam 5 level:
- Dasar
- Berkembang
- Terstandar
- Terkelola dan Terukur
- Optimal dan Berkelanjutan
Setiap level menjadi peta jalan bagi lembaga untuk terus meningkatkan kualitas layanannya.
Agar berorientasi pada hasil, IKR 2026 menggabungkan dua sisi penilaian: kapabilitas penyedia layanan dan manfaat yang diterima klien.
Dari sisi penyedia, yang dinilai meliputi tata kelola, kompetensi SDM, proses layanan, sumber daya, monitoring, hingga perbaikan.
Dari sisi klien, penilaiannya mencakup akses layanan, pemenuhan hak, pengalaman selama rehabilitasi, manfaat yang dirasakan, serta keberlanjutan proses pemulihan.
Hasil IKR 2026 tidak berhenti pada angka. Data ini akan digunakan untuk memetakan kesenjangan, menentukan prioritas pembinaan, kebutuhan sumber daya, menyusun rencana tindak lanjut, dan memantau perkembangan kualitas layanan dari waktu ke waktu.
Pengukuran ini juga dirancang sebagai siklus penjaminan mutu yang lengkap: mulai dari kajian awal, penyusunan indikator, validasi instrumen, pengumpulan dan verifikasi data, analisis, hingga penyusunan rekomendasi dan roadmap peningkatan.
Dengan begitu, IKR 2026 diharapkan menjadi instrumen penguatan mutu layanan rehabilitasi narkotika yang berkelanjutan. Tujuannya satu: memastikan setiap klien mendapatkan layanan yang aman, etis, berbasis bukti, dan berorientasi pada keterpulihan. (Arya78)
warondrugsforhumanity
BIRO HUMAS DAN PROTOKOL BNN














