Scroll untuk baca artikel
Example 35x290
Example 728x250
BeritaInfo DaerahJawa TimurNewsPOLRI

PARADE CIKAR KEDIRI MASUK TAHUN KE-5, LIBATKAN ANAK SEKOLAH DAN 2.000 TELUR GRATIS

24
×

PARADE CIKAR KEDIRI MASUK TAHUN KE-5, LIBATKAN ANAK SEKOLAH DAN 2.000 TELUR GRATIS

Sebarkan artikel ini

BATAVIAINEWS.COM KEDIRI – Puluhan cikar kayu berjalan beriringan ditarik sapi. Di atasnya bukan hanya peternak, tapi juga anak-anak sekolah yang tertawa sambil melambaikan tangan.

Pemandangan itu mewarnai Parade Cikar Kabupaten Kediri, Sabtu (22/8/2026). Memasuki tahun kelima, tradisi yang dulu menjadi moda transportasi warga ini kini kembali dihidupkan untuk dikenalkan kepada generasi baru.

Parade dimulai dari depan Taman Totok Kerot sekitar pukul 10.00 WIB. Sebanyak 43 cikar dengan sekitar 86 ekor sapi bergerak ke selatan, memutar di kawasan Monumen Simpang Lima Gumul, hingga finis di depan Kantor Dinas Perhubungan Kabupaten Kediri.

Jumlah peserta tahun ini bertambah. Tahun lalu 40 peserta, kini menjadi 43 peserta dari sekitar 10 kecamatan. Kecamatan Wates dan Ngadiluwih menjadi wilayah dengan peserta terbanyak.

Sekretaris Daerah Kabupaten Kediri, M. Solikin, yang mewakili Bupati Kediri mengatakan parade ini bukan sekadar memeriahkan HUT ke-81 RI.

“Ini sudah kelima kali. Niat dan tujuan kegiatan ini tidak sekadar melestarikan budaya, tetapi mengingatkan bahwa kita punya memori publik tentang transportasi,” kata Solikin.

Menurut Solikin, sapi juga memiliki nilai ekonomi besar. Kebutuhan daging dan susu masyarakat saat ini masih tinggi, sehingga Pemkab mendorong peternakan menjadi potensi ekonomi warga.

Plt Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Kediri, Tutik Purwaningsih, menyebutkan sebelum parade semua sapi wajib diperiksa kesehatan. Dari 46 pendaftar, 3 tidak lolos sehingga yang ikut 43 cikar.

“Dari pendaftaran terakhir ada 46, kemudian setelah pemeriksaan ada tiga yang tidak memenuhi syarat sehingga yang ikut 43. Semua sapi kami cek kesehatannya dua minggu sebelum kegiatan dan diberi vitamin,” jelas Tutik.

Tahun ini nuansanya berbeda, sebab Pemkab sengaja melibatkan masyarakat umum. Sekitar 50 siswa SDN 1 Wonosari Pagu diajak naik cikar dan diberi edukasi pentingnya konsumsi telur, daging, dan susu.

“Temanya kali ini lebih melibatkan masyarakat umum secara langsung. Selain memperkenalkan cikar kembali, kami juga ingin menguatkan sektor peternakan di Kabupaten Kediri,” kata Tutik.

Sepanjang rute, DKPP juga membagikan 2.000 butir telur rebus gratis untuk warga. Penilaian peserta tidak hanya dari performa sapi, tapi juga kreativitas cikar dan muatan lokal produk pertanian Kediri.

Antusiasme calon peserta juga tinggi, bahkan ada dari luar kota. Namun tahun ini parade masih khusus untuk pemilik cikar di Kabupaten Kediri.

“Sementara kita belum akomodir dan mungkin tahun depan akan kita perluas lagi. Jadi kita sesuaikan dengan ritme yang ada di Kabupaten Kediri,” ujar Tutik.

Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Kediri, Adi Suwignyo, berharap perhelatan ini menjadi ikon wisata baru.

“Menjadi ikon daya tarik wisata Kabupaten Kediri, di mana masyarakat perkotaan mungkin sudah jarang mengetahui. Keunikan ini diharapkan bisa menarik minat wisatawan, baik dalam maupun luar Kabupaten Kediri,” ungkapnya.

Kebahagiaan juga dirasakan Yudiono dari Desa Kunjang, Kecamatan Ngancar. Ia kembali keluar sebagai Juara 1 Parade Cikar.

“Alhamdulillah sangat senang dan bahagia sekali,” kata Yudiono.

Kepala Desa Kunjang itu mengaku telah merawat sapinya dengan vitamin, comboran, dan hijauan. Cikarnya juga rutin dicat dan ditutup terpal agar awet. Ia berharap parade ini terus ada setiap tahun.

Dari sorak anak-anak di atas cikar, hingga semangat Yudiono merawat tradisi. Parade Cikar membuktikan, menguri-uri budaya paling efektif saat mengajak generasi baru ikut merasakannya. (Arya78)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *