Agam –BATAVIAINEWS.COM– Ketakutan menyelimuti warga Maua Hilia, Jorong Kayu Pasak Timur, Nagari Salareh Aia, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam. Sejak awal Januari 2026, kemunculan sosok misterius yang dijuluki warga sebagai “Manusia Bertopeng” menciptakan teror psikologis berkepanjangan, terutama bagi kaum perempuan.
Sosok tersebut bukan hanya tampil dengan penampilan tak lazim—bercelana dalam, bertopeng, dan membawa parang—namun juga berani melakukan pengejaran terhadap warga di malam hari. Ironisnya, teror ini terjadi di tengah kondisi masyarakat yang masih trauma akibat bencana banjir bandang pada akhir November 2025 lalu.
Muncul Berulang, Pola Mulai Terbaca
Hasil penelusuran di lapangan menunjukkan bahwa kemunculan pelaku bukanlah kejadian tunggal. Berdasarkan keterangan Kepala Jorong Kayu Pasak Timur, Yoka, sosok misterius pertama kali terlihat pada Minggu, 11 Januari 2026. Namun saat itu warga menganggapnya sekadar isu atau kesalahan penglihatan.
Situasi berubah drastis pada Rabu malam, 14 Januari 2026. Pada malam tersebut, pelaku kembali muncul dan dilaporkan mengejar seorang perempuan yang sedang melintas di jalan kampung. Insiden ini memicu kepanikan massal dan membuat warga yakin bahwa ancaman tersebut nyata.
“Pelaku ini seolah sengaja menampakkan diri. Anehnya, lebih sering muncul di hadapan perempuan. Kalau dikejar warga laki-laki, biasanya hanya terlihat punggungnya sebelum menghilang,” ungkap Yoka.
Medan Gelap, Pelaku Diduga Paham Wilayah
Investigasi menemukan bahwa wilayah Kayu Pasak Timur memiliki banyak titik rawan: penerangan jalan minim, semak belukar lebat, serta kontur perbukitan yang memudahkan seseorang untuk bersembunyi atau melarikan diri.
Aparat gabungan dari kepolisian, Brimob, perangkat jorong, dan sekitar 100 warga telah melakukan penyisiran intensif. Namun hingga kini, sosok tersebut belum berhasil diamankan.
“Kami menduga pelaku sangat mengenal medan. Bisa jadi bukan orang luar, atau setidaknya pernah lama berada di wilayah ini,” ujar salah seorang warga yang ikut patroli malam namun enggan disebutkan namanya.
Antara Gangguan Jiwa, Kriminal, atau Teror Psikologis
Sejumlah spekulasi berkembang di tengah masyarakat. Ada yang menduga pelaku mengalami gangguan kejiwaan, sementara lainnya meyakini ini adalah bentuk teror terencana untuk menimbulkan ketakutan.
Fakta bahwa pelaku membawa senjata tajam dan secara aktif mengejar warga menunjukkan potensi ancaman serius. Aparat keamanan pun belum menutup kemungkinan adanya unsur kriminal, pelecehan, atau intimidasi psikologis.
Dampak Sosial: Perempuan Tak Berani Keluar Rumah
Dampak teror ini sangat nyata. Aktivitas malam hari praktis lumpuh. Kaum perempuan memilih tetap di rumah setelah senja, sementara anak-anak dilarang keluar tanpa pendamping.
Sebagai langkah darurat, warga memperketat pos kamling dan ronda malam. Rapat khusus perangkat nagari dan tokoh masyarakat dijadwalkan digelar untuk menyusun strategi lanjutan, termasuk penambahan penerangan jalan dan pola patroli terpadu.
Menanti Jawaban
Hingga kini, identitas “Manusia Bertopeng” masih menjadi misteri. Warga berharap aparat segera mengungkap siapa pelaku sebenarnya, sebelum teror ini berubah menjadi tragedi nyata.
Di tengah luka pascabencana, masyarakat Agam kini kembali diuji—bukan oleh alam, melainkan oleh ketakutan yang berjalan di kegelapan malam.
(Ferdi/Wakaperwil Sumbar)














